Sabtu, 30 April 2011

Mata Kuliah Immunologi



Reaksi Tubuh terhadap Tantangan Immunologis

PENDAHULUAN
REAKSI IMUNOLOGIS NORMAL
ANTIGEN
            Jika benda asing dimasukan ke dalam jaringan hidup umumnya dapat menimbulkan respon.Banyak benda asing jika dimasukan ke dalam tubuh hospes berkali-kali,respon yang ditimbulkan selalu sama. Namun,ada benda asing tertentu yang mampu menimbulkan perubahan pada hospes sedemikian rupa sehingga reaksi selanjutnya berbeda daripada reaksi sewaktu pertama kali masuknya benda asing tersebut. Respon yang berubah semacam itu di pihak hospes disebut sebagai respon imunologis dn benda-benda asing yang menyebabkan reaksi tersebut dinamakan antigen atau imunogen. Tujuan utama respon imun adalah menetralkan,menghancurkan atau mengeluarkan benda asing tersebut lebih cepat dari biasanya.
            Seperti yang sudah dinyatakan diatas,tidak semua benda asing bersifat antigenik. Benda-benda yang tidak berfungsi sebagai antigenik umumnya relatif beberat molekul tinggi,biasanya melebihi 10.000. Sebagian besar antigen adalah protein,tetapi polisakarida,polipeptida,dan asam nukleat tertentu yang berukuran besar dan asam nukleat tertentu yang berukuran besar dapat juga berfungsi sebagai antigen. Antigen-antigen itu secara kimia itu mungkin berupa zat yang murni atau seperti yang sering terjadi,mungkin tergabung dalam bentuk kompleks sebagai bagian dari struktur bakteri,virus,atau bahkan jaringan hidup. Dalam menimbulkan respon,tidak perlu seluruh molekul memainkan peranan yang vital. Hanya bagian tertentu yang aktif memainkan peranan penting dalam reaksi ini,bagian ini dinamakan gugus determinan. Tetapi,ada molekul-moleku kecil tertentu yang tidak mampu bertindak sebagai antigen jika berdiri sendiri, ternyata dapat bergabung dengan mmolekul yang lebih besar,seperti protein tubuh,dan membentuk kompleks yang kemudian dapat bertindak sebagsi antigen. Dalam keadaan semacam ini,kekhasan reaksi yang terjadi berkaitn dengan gugus determinan dari molekul kecil tersebut. Molekul semacam ini disebut hapten,dan molekul yang lebih besar itu disebut karier.

Sifat Khas Respon Imun
            Tujuan respon imun adalah untuk menlenyapkan benda yang bersifat antigenik dengan cepat,hal ini dilakukan oleh tubuh melalui dua macam cara. Cara pertama,respon imun humoral,dipengaruhi oleh imunoglobulin,gamma globulin dalam darah,yang disintesis oleh hospes sebagai respon terhadap masuknya benda antigenik.Imunoglobulin ini bereaksi secara khas dengan antigen yang membangkitkan pembentukannya,dengan reaksi ini,sering dibantu oleh “sistem penguat”,antigen tersebut dilenyapkan.
            Reaksi imunologis kedua,respon imun selular,dilakukn secara langsung oleh limfosit yang berproliferasi akibat masuknya antigen tersebut. Sel-sel ini bereksi secara spesifik dengan antigen (tanpa intervensi dari imunoglobulin).
            Reaksi-reaksi imunologis,apakah yang diperantarai oleh antibodi imunoglobulin atau yang langsung oleh sel,memperlihatkan sifat pengenalan diri. Artinya,reaksi-reaksi ini akan dikerahkan hanya untuk melawan benda-benda yang dirasa asing dan biasanya tidak dikerahkan melawan unsur-unsur tubuh sendiri. Sifat kedua dari respon imunologis adalah memori,respon trhadp antigen akan berlangsung lebih cepat jika tubuh jika tubuh telah terpapar berulang kali dengan antigen tersebut. Mekanisme seluler tubuh dapat mengingat antigen tertentu. Sifat terakhir yang sangat penting dari respon imunologis adalah spesifitas. Artinya,anti bodi yang pembentukannya ditimbulkan oleh antigen tertentu bereraksi secara khas dengan antigen tersebut (atau dengan molekul-molekul yang mengandung gugus determinan yang benar-benar identik.
Jaringan Imunoreaktif
            Bagian respon imun yang mengakibatkan pembentukan antibodi imunoglobulin atau proliferasi sel-sel reaktif antigen kadang-kadang disebut sebagai fase aferen atau fase induksi dari respon imun. Limfosit dan makrofag adalah sel-sel yang terutama bertanggung jawab atas bagian respon ini. Lebih khusus,apa yang dinamakan jaringan limfoid tubuhlah yang terlihat. Sekali antibodi sudah disintesis atau sel-seel reaktifantigen sudah berproliferasi,maka mereka akan tersebar secara luas dalam bebagai jaringan tubuh,sehingga jika antigen itu dimasukan kembali pada sembarang tempat,dapat terjadi reaksi imunologis yang efisien. Dengan kata lain sel efektor atau molekul imunoglobulin itu,walaupun dihasilkan dalam jaringan limfoid,dapat ikut serta dalam fase eferen atau fase efekttor dari respon imunologis sebenarnya dimanapun dalam tubuh.

BIOLOGI SEL LIMFOSIT DAN JARINGAN LIMFOID
Sifat-Sifat Limfosit
            Secara morfologis,limfosit temasuk diantara sel-sel tubuh yang paling non dekskriptif. Umumnya,limfosit mempunyai inti besar,kasar sferis, berwarna sangat gelap dan memiliki sitoplasma yang relatif sedikit. Di bawah mikroskop elektron,limfosit tampak memounyai sedikit organel dalam sitoplasmanya. Dengan mikroskop biasa akan terlihat bahwa limfosit cenderung berbeda satu dengan yang lain terutama mengenai ukuran dan banyaknya sitoplasma.
            Walaupun limfosit tampak tidak menarik,tetapi ternyata limfosit ini merupakan sel-sel yang sangat dinamis dan sangat heterogen dalam berbagai segi. Barangkali perbedaan ukuran merupakan segi yang paling tidak penting pada heterogenitas limfosit. Sel-sel limfosit berbeda satu dengan lainnya dalam hal :
1.    Perjalanan proses perkembangannya
2.    Siklus hidupnya
3.    Masing-masing mengalir melalui jalur yang berlainan dalam tubuh
4.    Memiliki sifat permukaan yang berlainan dan yang paling penting
5.    Fungsinya belainan.
Beberapa limfosit jika dirangsang dengan tepat akan mengeluarkan substansi yang larut,substansi ini disebut limfokin,limfokin ini memiliki pengaruh yang sangat penting pada sel-sel lain dalam tubuh. Jenis limfosit lain bila dirangsang dengan tepat dapat mengubah strukturnya,mendapat “mesin” sitoplasma sintesis protein,dan menjadi penghasil antibodi imunoglobulin. Jika limfosit sudah menjalani modulasi ini,maka namanya menjadi sel plasma.
Dilihat dengan mikroskop elektron,sitoplasma basofilik yang jumlahnya banyak itu,yang timbul jika limfosit menjadi sel plasma terlihat mengandung banyak retikulum endoplasma kasar, yang merupakan tempat sintesis imunoglobulin. Jika jika dirngsang dengan tepat,beberapa limfosit dapat mengalami apa yang disebut transormasi blas. Yaitu merka menjadi limfoblas yang membelah dan menghasilkan penambahan jumlah sel yang memiliki sifat-sifat yang sama. Berbagai reaksi limfosit yang berlainan ini dicetuskan oleh reaksi-reaksi yang terjadi pada tingkat memran sel.

Komponen dalam Sistem Limfoid
            Limfosit hampir selalu terdapat dimana-mana dalam tubuh, tetapi cenderung terpusat dalam jaringan tertentu (jaringan limfoit) yang bersama-sama merupakan sistem yang terkoordinasi. Komponen  komponen sistem ini mencakup kelenjar limfe, limpa, timus, jaringan limfoid yang berhubungan dengan permukaan mukosa, dan sumsum tulang.
            Kelenjar limfe adalah komponen yang paling banyak dari sistem ini. Massa jaringan limfoit yang diselubungi kapsul sebenarnya terdapat dalam tiap bagian tubuh,barang kali yang dikenal adalah kelenjar pada leher atau pangkal paha yang dapat diraba. Mereka seperti saringan yang dapat ditempatkan pada jarak-jarak tertentu dalam saluran limfe. Pembuluh limfe yang masuk atau aferen menembus kapsul kelenjar,dan cairan limfe yang berlangsung memasuki sistem sinosoidyang beranatomosis yang dilapisi oleh makrofag. Ternyata, kelenjar itu adalah jaringan sinosoid dengan nodulus dari jaringan limfoid yang disebut folikel yang tersusun pada bagian perifer kelenjar (korteks). Di bagian dalam, atau medula kelenjar, ada pita-pita jaringan limfoit diantara sinusoid.Baik dalam korteks maupun dalam medula,limfosit ini mampu mengadakan interaksi satu dengan yang lain juga dengan makrofag, sering dengan adanya benda antigenik yang masuk melalui pembuluh limfe aferen. Pembuluh limfe eferen keluar kelenjar dari daerah medula. Struktur kelenjar limfe yang penting adalah kenyataan bahwa kelenjar limfe juga memiliki banyak suplai darah yang penting bagi lalu lintas limfosit dalam tubuh.
            Limpa adalah massa besar yang terdiri dari limfosit dan makrofag yang dirangkai ke dalm aliran darah. Sinosoid limpa dipenuhi oleh darah bukan oleh limfe. Berselang-seling dalam jaring sinusoid darah serta makrofag-makrofagnya terdapat nodulus yang berada nodulus jaringan limfe, struktur limpa memungkinkan interaksi yang erat antara limfosit, makrofag, dan benda-benda yang dibawa dalam aliran darah.
            Timus adalah jaringsn limfoid yang terletak dalam rongga dada, anterior dari bagian atas jantung dan pembuluh-pembuluh besar. Organ ini terdiri dari rangka retikular pada yang diinfiltrasi secars rapat oleh limfosit yang tersusun seperti dalam korteks dan medula. Jaringan limfoid timus juga mempunyai suplai darah yang banyak.
            Suatu komponen sistem yang penting sekali adalah jaringan limfoid yang penying sekali adalah jaringan limfoid yang berhubungan dengan permukaan mukosa tubuh seperti yang terdapat dalam saluran cerna dan saluran pernafasan. Walaupun dalam tiap daerah jenis jaringan limfoid ini tidak membentuk nodulus yang sangat besar, tetapi distribusunya yang difus membuat jaringan ini menjadi sangat penting. Jaringan ini ditempatkan pada tempat yang strategis dipandang dari segi reaktifitas antigennya dan fungsi pertahanannya oleh karena menghubungkan antara hospes dan lingkungannya. Jenis jaringan limfoid seperti ini terutama terlihat menyolok pada saluran cerna, jaringan ini tersebar difus dalam lamina propia mukosa dan dalam kelompok noduli agregasi yang disebut bercak-bercak Peyer.
            Yang terakhir adalah sumsum tulang, organ yang merupakan bagian penting dari sistem limfoid. Walaupun perhatian dari organ ini dipusatkan pada unsur-unsur humatopoiesis dalam sumsum yang bertanggung jawab atas pembentukan granulosit, trombosit, dan sel darah merah, tetapi sebenarnya terdapat juga  berjuta-juta limfosit yang tersebar dalam sumsum tulang.

Lalu Lintas Limfosit Di dalam Tubuh
            Bemacam-macam komponen dari sistem limfoid disatukan oleh semacam sistem saluran ganda, sistem pembuluh darah dan sistem pembuuh limfe. Pada tiap saat ada berjuta-juta limfosit bergerak baik dalam darah maupun dalam cairan limfe. Berbagai saluran limfe dalam tubuh mengalirkan cairan dari interstisial organ-organ dan jaringan, dan membawa ke pusat, di mana akhirnya bermacam-macam saluran itu bergabung bersama dan memasuki alairan darah melalui sebuah vena besar dalam dada. Dengan demikan, maka ada aliran limfe yang tetap kembali ke dalam darah dan pembentukan cairan limfe yang tetap oleh gerakan cairan ke luar dari darah ke dalam jaringan. Dengan cara yang sama terdapat resirkulasi yang tetap dari limfosit sendiri. Limfe di dalam jsaluran limfe sentral yang besar (duktus torasikus) mengandung banyak limfosit dalam jumlah yang cukup mengalir melalui duktus yang bersirkulasi di dalam darah beberapa kali sehari.
            Sebagian besar limfosit yang mengalir dalam duktus torasikus sebetulnya sedang mengalami “resirkulasi”. Limfosit meninggalkan aliran darah melalui venula khusus dalam jaringan limfoid;limfosit itu berada dalam jaringan limfoid untuk waktu yang berbed-beda dan kemudian limfosit tersebut akan bersirkulasi lagi melalui aliran limfe dan bergabung kembali dengan limfosit lainnya dalam sirkulasi darah. Gerakan limfosit tersebut di dalam tubuh satu dengan lain berbeda dengan nyata. Beberapa limfosit berumur sangat panjang (berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun) dan beredar dan resirkulasi dengan ekstensif. Limfosit lainnya berumur pendek dan tidak beredar sebebas itu. Ada juga kelompok limfosit tertentu yang lebih senang “tinggal” di tempat tertentu di dalam bagian pada sistem limfoid. Hal yang penting di sini adalah bahwa di dalam sistem limfoid terdapat persediaan untuk menggerakan limfosi-limfosit ari satu daerah ke daerah lainnya. Arti biologisnya adalah anggota-anggota dari kelompok limfosit tertentu yang mula-mula berproliferasi dalam satu tempat tertentu dapat bersirkulasi ke seluruh tubuh  dan siap untuk mengadakan interaksi dengan antigen pada berbagai tempat.

KEKEBALAN YANG DIPERANTARAI ANTIBODI
Induksi Sintesis Imunoglobulin
            Syarat sintesis imunoglobulin atau antibodi adalah sedmikian rupa sehingga tidak ada satu organpun mempunyai kekuatan monopoli dalam pembentukan antibodi. Umumnya, jika antigen dapat dipertemukan dengan makrofag, limfosit B, dan limfosit T, maka terjadilah pembentukan imunoglobulin. Keadaan ini terjadi pada kelenjar lmfe, limpa dan jaringan nobulus limfoid tertentu sepanjang permukaan mukosa. Dengan demikian maka jika antigen memasuki jaringan subkutan, seperti yang terjadi sewaktu individu disuntik, antigen tersebut akan mengalir melalui pembuluh limfe ke kelenjar limfe regional, dimana selanjutnya terjadi pembentukan antibodi. Pada keadaan lain mungkin ada “tumpahan”. Misalnya, setelah penyuntikan subkutan, sebenarnya antigen dapat lewat melalui kelenjar limfe regional untuk mencapai sirkulasi darah untuk menuju ke limfa.Dengan cara serupa, maka benda antigenik yang memasuki permukaan mukosa dapat merangsang jaringan limfoid yang berhubungan dan dapat mengalir ke pembuluh limfe regional
            Ketika antigen memasuki jaringan limfoid, maka langkah pertamanya mencakup pengambilan benda antigenik oleh makrofog.Sel-sel ini bertanggung jawab menyajikan antigen yang cocok bagi limfosit atau mungkin untuk memproses antigen dan menghasilkan molekul yang sangat imonoenik. Kemudian antigen berfungsi “memilih” limfosit-limfosit tertentu dan mengadakan reaksi dengannya. Artinya, didalam jaringan limfoid yang sedikit terdapat sejumlah kecil limfosit yang reseptor permukaanya adalah sedemikan rupa sehingga bereaksi dengan kelompok-kelompok determinan daeri antigen itu. Hasil interaksi semacam ini adalah kenaikan jumlah limfosit dari jenis tertentu, dan modulasi dari limfosit B menjadi sel plasma yang menghasilkan antibodi. Pada sebagian besar antigen, populasi limfosit berfungsi sebagai “sel pembantu”, dengan cara mempengaruhi aktifitas limfosit B. Hasil interaksi ini adalah pembesaran kelenjar limfe baik makroskopik maupun mikroskopik menandakan peningkatan yang nyata ndalam jumlah limfosit yang di dalamnya, dan pembesaran folikel-folikel di dalam korteks dan pita-pita sel di dalam medula. Waktu sel-sel plasma mensintesis antibodi imunoglobulin, sel tersebut disekresi ke dalam cairan limfe dan kemudian bersirkulasi secara luas ke dalam tubuh. Bagian hasil induksi reaksi imun adalah pembentukan “limfosit pengingat”. Agaknya sel-sel semacam itu bersirkulasi secara luas dalam tubuh, sehingga ingatan sel terhadap antigen tidak hanya terdapat secara lokal saja.
           
Cara-cara Terjadinya Cedera Jaringan
Reaksi tipe I (anafilaktik)
            Pada reaksi tipe I, disebut juga sebagai reaksi tipe anafilaktik, subjek harus disensitiasi lebih tertentu oleh anigen tertentu. Selama respon fase induktif dibentuk antibodi IgE. Antibodi ini bersirkulasi dan melekat pada permukaan sel mast yang tersebar diseluruh tubuh. Jika antigen kemudian dimasukan ke dalam subjek, maka interaksi antigen dengan antibodi yang terikat pada sel mast mengakibatkan pelepasan eksplosif dari zat-zat yang terkandung didalam sel. Jika antigen yang dimasukan itu sedikit dan bersifat lokal, maka pelepasan mediatornya juga bersifat lokal, dan hasilnya tidak lebih dari daerah vasodilatasi  dan bertambahnya permeabilitas yang mengakibatkan pembengkakan lokal. (Mekanisme reaksi ini merupakan dasr yang dipakai oleh para ahli alergi untuk melakukan tes kulit.) Namun, jika antigen yang dimasukan berjumlah lbih besar dan dimasukan secara intravena ke dalam individu yang telah disensititasi, maka pelepasan mediator akan bersifat masif dan tersebar luas.

Reaksi tipe II (sitotoksik)
            Reaksi tipe II pada dasrnya merupakan sitotoksik. Pada reaksi macam ini antibodi IgG dan IgM yang bersirkulasi menjadi satu dengan antigen yang cocokpada permukaan sel (yaitu, antigen yang melekat pada atau merupakan bagian dari permukaan sel). Hasil dari interaksi ini adalah percepatan fagositosis sel target atau lisis sebenarnya dari sel target setelah pengaktifan komponen ke delapan atau ke sembilan rangkaian komplemen. Jika sel target adalah sel asing seperti bakteri, maka hasil reaksi ini menguntungkan. Namun kadang-kadang, sel target itu adalah eritrosit dari tubuh, dalam hal ini akibatnya dapat berupa anemia hemolitik.
Reaksi tipe III (kompleks imun)
            Reaksi tipe III mempunyai berbagai bentuk,tetapi pada akhirnya reaksi-reaksi tersebut sama-sama diperantarai oleh kompleks imun, yaitu kompleks antigen dengan antibodi, biasanya dari jenis IgG. Prototip dari reaksi adalah reaksi Arthus. Secara klasik, jenis reaksi ini ditimbulkan dengan cara mengsensitisasi subyek dengan beberapa protein asing dan selanjutnya subyek tersebut diberi suntikan antigen yang sama secara intrakutan. Reaksi itu secara khas timbul sesudah beberapa jam, dengan melalui fase pembengkakan dan kemerahan kemudian nekrotik serta pada kasus yang berat terjadfi pendarahan.

OTOIMUNITAS
            Pada umumnya fenomena imunologis meliputi pengenalan diri sehingga limfoid dari hospes tidak bereaksi dengan antigen dari tubuh hospes. Namun, sekarang telah diketahui bahwa dalam sejumlah reaksi-reaksi yang telah diperantarai oleh antibodi atau sel terhadap antigen sendiri dapat diperlihatkan. Meskipun beberapa reaksi ini tidak terlalu penting akan tetapi pada hal-hal lain otoimunitas dianggap sebgai kunci dari patogenesis penyakit. Sering kali pencetus otoimunitas tidak diketahui akan tetapi ada beberapa kemungkinan yang teoritis mungkin dapat menerangkan hilangnya toleransi terhadap antigen itu sendiri. Pada beberapa hal ternyata agaen infeksi mungkin mempunyai kelompok-kelompok antigenik yang sama seperti yang terdapat pada jaringan tertentu dari hospes. Kemudian dengan reaksi dalam agen itu,jaringan hospes dapat cedera oleh karena reaksi silang. Keadaan kedua mengenai perubahan struktur antigenik dari protein hospes yang disebabkan oleh cedera, infeksi, atau membuat kompleks dengan hapten dari luar hospes. Dengan struktur antigenik yang berubah, jaringan tertentu mungkin menimbulkan reaksi imunologik seperti benda asing.

SINDROM IMUNODEFISIASI
            Pada sisi ekstri lain, seseorang mungkin mengalami penyakit oleh karena defisiensi dalam mesin imunologik sendiri, yaitu jaringan limfoid tidak dapat bereaksi secara normal terhadap berbagai antigen. Penyakit-penyakit ini menjadi nyata secara klinis sebagai kepekaan yang luar biasa terhadap infeksi yang dapat sedemikian berat sehingga dapat mematikan. Pola infeksi akan ditentukan oleh tipe yang tepat dari imunodefisiensi.
            Efisiensi imunologi dapat primer ( artinya mereka dapat mempunyai dasar genetik), dan berbagai bagian dari sistem imun mungkin terlibat. Misalnya, pada agammaglobulinemia terkait-x, defisiensi ini adalah defisiensi dari sel-sel B dengan hampir  tanpa pembentukan imunoglobulin sama sekali. Defisiensi ini dapat terdiri dari satu tipe imunoglobulin tertentu, misalnya IgA. Juga bahkan imunodefisiensi campuran yang hebat, dalam hal mana orang yang terkena tidak mempunyai reaktivitas imunologis.
            Defisiensi imunologik mungkin dapat juga sekunder yaitu didapat didalam perjalanan penyakit lain. Beberapa keadaan keganasan, misalnya dapat melibatkan jaringan limfoid yang cukup luas untuk merusak fungsinya. Terpi obat-obat sitotoksik bisa juga menghancurkan jaringan ini. Akibatnya adalah kepekaan yang sangat meningkat terhadap infeksi.
            Dalam beberapa tahun lalu,kita dapat melihat adanya defisiensi imunologik didapat yang berbahaya. Sindrom defisiensi imunologis yang didapat ini (AIDS), telah dilihat pertama kali pada pria homoseksual atau biseksual dengan kontak seksual yang banyak,pemakaian obat bius secara intravena, dan pada resepien dari bahan-bahan darah, terutama penderita hemofilia yang menerima bahan-bahan darah dari banyak donor.Penyaki ini disebabkan oleh virus, yaitu HIV (human immunodeficiency virus). Ternyata infeksi oleh virus ini mengakibatkan obliterasi dari fungsi sel T pembantu, dengan menurunnya pertahanan oleh sel perantara yang besar (dan defisiensi lain yang lebih ringan). Orang-orang yang diserang menjadi mangsa dari infeksi “oprtunistik” oleh agen yang biasanya tidak berbahaya terhadap orang-orang yang imunitasnya baik (misalnya, sitomegalovirus, organisme yang disebut Pnemocystis carinii dan berbagai protozoa, bakteri dan jamur). Beberapa penderita AIDS juga mendapatkan kanker yang tidak wajar. Mortalitas dari sindro yang telah berkembang sempurna, dengan sensitivitas yang luas terhadap infeksi, ternyata adalah 100%.







DAFTAR PUSTAKA
·         Sylvia A. Price dan Lorraine M. Wison, Buku Patofisiologi (Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit),Penerbit Buku Kedokteran.
·         http://blogs.unpad.ac.id/systemimmune/2010/10/27/system-immune/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar